My People

Welcome!

Assalamualaikum,
Welcome to the MilkyNadway!
MilkyNadway it's a fairytale! And i am a Queen of the kingdom in MilkyNadway. You can go to anywhere, you can be everything you want, and dont worry about time, and pain, and the sadness, the sorrow, you will not found it here.
So have fun, and enjoyed!

-arigatou \(^O^)/ sayounara
from, queen

September 23, 2013

KISAH DUSTAKU

Sejauh ini yang dapat aku berikan masih kepalsuan. Sampai berapa lama kebohongan ini akan terus terjadi? Sampai kapan kepalsuan ini akan terus berjalan?
Tuhan salahkah aku yang terus berdusta, menutupi kesedihan dengan tawa? Menghapus jejak dalam bayang-bayang kisah masa lalu.


Aku terombang-ambing dalam telaga hitam pekat, terseok-seok mencoba menepi, namun yang terjadi adalah ombak menghempaskanku kedalam air yang gelap. Tak ingin bangkit. Aku tersedak cairan dingin menusuk kulit. Terasa seribu jarum menusukku secara bersamaan. Namun, ya, aku lebih memilih seperti itu daripada bangkit mengejar cahaya diatas kepalaku.
Waktu sudah tidak lagi ku pedulikan, siang, malam, jam, tanggal, sudahlah, itu semua tidak berarti. Karena bagiku, semua terasa sama, waktu tidak berjalan, dan aku berdiam dalam ruang waktu.
Terkadang aku tersenyum, namun lihat sekali lagi, air mukaku tertekuk, senyum yang meringis, tawa yang seolah-seolah terpaksa ku lontarkan. yah itulah sebuah dusta.

Ketika sesuatu menarikku keluar dari telaga, namun akhirnya ia menghempaskanku kembali.
Seperti itulah yang kurasakan.
Meringkuk dalam dinginnya air telaga, menatap gelombang udara yang keluar dari hidungku, berharap dapat menahan nafasku lebih lama dari yang seharusnya, andai saja ku bisa mati, namun sayang itu semua terjadi hanya dalam bayanganku. Kenyataannya ku begitu pengecut untuk melakukan hal tersebut, walau tak mungkin ku pernah merengkuh kematian.
Hidupku tak berjalan dengan mulus, semua orang pun mengalami hal serupa. Aku merasa, aku adalah manusia yang tercipta untuk penderitaan, Semakin dewasa aku semakin belajar arti kepalsuan, semakin aku melihat banyaknya kebohongan yang terjadi disekelilingku, membuatku yakin bahwa dusta adalah jalan terbaik yang harus aku pilih.
Tangis sudah menjadi ciriku, erangan pilu sudah menjadi nyanyian dalam telingaku, ketakutan adalah hatiku, dan aku adalah kematian.
Tentu saja aku hanya mendramatisir setiap hal yang terjadi dalam hidupku.
Namun suatu saat, ketika aku sudah muak dengan mimpi-mimpi cinderella dan putri tidur, datang seseorang yang kunamai cinta sejati.
Tentu saja, itu bukan akhir dari cerita dustaku. Tentu saja, itu bukan awalan kisah bahagiaku.
Namun dari situ aku mendapatkan banyak pengalaman, perasaan selain dusta, dan pelajaran akan hidup.

Kulalui setiap hariku dengan tawa, tangis, cinta, dan segudang perasaan yang tak dapat dijabarkan.
Dia tak sempurna, namun aku mencintainya. Dia yang membuatku bangkit dari telaga, kini ku berada dalam sebuah kapal kecil, dan akan ku rombak menjadi kapal nan besar dan indah.
Kapal kecil seperti ini tak akan terus diam, yah, dia berjalan, mengikuti angin, terombang-ambing, namun tetap tegap menghadang laut.
Aku memang mencintainya, melebihi ia yang mencintaiku. Itu pendapatku.
Aku menyukainya, lebih dulu dari dia. Itu menurutku.
Aku miliknya, dan ia milikku. Itu kesalahanku.
Yang kutakutkan hanyalah badai yang akan menghancurkan kapal ini, tak pernah ku berfikir bila kapal ini akan pergi meninggalkanku terbawa ombak menjauh dari gapaianku.
Tidak. Belum saatnya.
Dulu ku bahagia, tak peduli kapal-kapal yang jauh lebih indah untuk ku naiki, tak peduli berapa pulau telah ku lewati, aku tetap tak berniat untuk berhenti.
Setiap hari ku hitung dengan senyum, membanggakannya, Dia adalah satu-satunya hal yang kuimpikan sejak lama.
Walaupun sekali lagi ku tegaskan, dia tidaklah sesempurna itu.
Tidak ada yang sempurna, bahkan aku, kamu, dia, semuanya.
Apalah arti ketidak sempurnaan, itu hanyalah sebuah kata untuk saling melengkapi, bukannya saling menjauhi, dan menolak.
Tak perlu ku jelaskan mengapa kapal itu pergi dan kini ku tenggelam.
Kapal yang telah kujaga, ku rawat, kini hilang.

Kegelapan mulai terlihat, kini, sebarapa jauh aku tenggelam dan gelapnya telaga?
Bahkan aku menggerakan kakiku untuk turun hingga kedasar samudra, tak ku hiraukan tangan halus yang ingin menggapaiku, diriku kosong dalam kenangan.
Menenggalamkan diriku adalah suatu hal khusus yang ku terapkan kini, tidak tersenyum bahkan memperlihatkan emosi. hanya tersentak dan menangis.
Terasa kulitku mulai terkoyak, dinginnya air mulai merusak setiap jengkal fisikku.
Terasa seperti aku bukanlah aku.
Lalu siapa aku?
Memliki dua kepribadian.
Tersenyum di kala siang, dan menangis kepada malam.
Bulan membenciku, Angin membenciku. Awan pun membenciku.
Dikatakannya mereka iri dengan matahari. Mengapa hanya kepada matahari ku memperlihatkan senyum? mengapa ku mendongak menatap matahari terbit, namun tenggalam dalam lautan air mata dikala matahari terbenam? Apa salah bulan kepadaku?
Dia berucap "Ku berikan malam yang cerah untukmu, secarah matahari menghangatkanmu, yang dapat kulakukan hanya menerangi malammu. tidakkah itu cukup untukmu?"
Aku terdiam. angin menghapus air mataku.
Tersadar itu hanya mimpi dalam bayang laut. Ku menatap kearah langit, biru terang, warna yang terang, putih bercahaya, namun cahaya itu berada jauh diatas sana. Cahaya itu tidak menyentuhku.
Ku bentangkan kedua tangankui, terasa hangat pasir bawah laut.
Dengan kenyamanan yang kudapatkan, ku abaikan suara bulan.
Ku habiskan waktuku, menghitung denyut nadiku, seberapa lemah keadaanku, jantungku tak berdetak, terisi air yang semakin lama semakin banyak. Gelombung udara entah, tak terlihat lagi.
Aku bermain dalam pasir, menutup dan membuka mata, tetap terasa hidup namun sebenarnya telah mati.

Rasa bosan membunuhku.
Tertarik ku dongakan kepalaku dan menatap keatas, terpancing untuk berenang dan melihat apa yang berada diatas sana?
Ku hentakan kakiku, mecoba, mengintip suasana atas air yang tak pernah kurasakan.
Tak perlu berapa lama, mulai kulihat banyak perahu melewatiku, mengamatiku, merasa iba, atau bahkan bingung, Merasa lucu dengan keadaanku, mereka memanggilku, namun ada yang tak melihatku; berpura-pura aku tidak ada.
Aku sedikit lega, ketika indra penciumanku bekerja, angin memasuki relung kerongkongan, menuju paru-paru. Angin berputar dan keluar lagi menuju hidungku.
Mataku jernih melihat warna-warna yang tak lagi kabur. Kini aku melihat pemandangan yang telah lama hilang.
Namun aku masih terdiam dalam suasana hening, memang wajahku menatap langit, namun aku masih menutupi badanku dengan air.
Aku hanya mengamati sekelilingku, menatap wajah mereka satu-persatu, menelaah setiap jengkal perasaan mereka ketika melihatku.
Satu kapal menabrakku, dia diam, tertawa, mengajakku berbicara, tidak seperti yang lainnya, hanya berniat untuk mengetahui siapa aku, lantas setelah itu mereka pergi. Dia berbeda, fikirku.
Aku terbuai dengan candanya, kepiawannya dalam membuatku tertawa.
Hingga tiba, dimana tangannya menuntunku masuk kedalam perahu mungilnya, dan aku memutuskan untuk bangkit dari dalam telaga dingin.
Dia memberikan aku sejuta kehangatan, membuatku senang, dan aku perlahan mulai bangkit dan membenahi diriku.
Hingga beberapa hari tiba, dan.. Dia tak sama. Perahu yang hening. Tidak bersuara. Jeritanku terdengar, namun ia urung berbicara. Aku berniat untuk terjun kembali kedalam telaga, ia menahanku. Menahan dalam sekuel berjalan, antara dirinya dan aku yang menutup hati.
Aku mencoba tersenyum, bersabar, dan melihatnya, mencoba merindunya, mencoba menggapainya, menjadikan ia satu-satunya.
Tapi tidak ada kebahagiaan yang terlihat. Hanya kebisuan. Perbedaan yang terjadi, yang dulu ku anggap sebagai suatu hal yang seharusnya terjadi untuk melengkapi. Namun kini berbeda. Dia tidak sama.
Tidak ada yang sama. Aku mengerti.
Kapal ini terasa indah, terasa menjanjikan, namun kebisuan yang terjadi membuatku terasa sama matinya seperti di dalam telaga. Tak ada yang diperbaiki, bahkan diriku tak dibuat lebih baik, hanya dibiarkan teronggok didalam sudut kapalnya.
Aku ingin menjerit.
"Perbaiki aku" "Hilangkan luka-ku" "Dengarkan aku" "Lihat aku" Yah itu hanya jeritan hati sebuah "barang" rusak.
Menangispun aku tak sanggup. Tak ada lagi. Sudah mati.
Akankah kamu mengerti...... Bagaimana memperbaiki hati yang luka?
Apakah kamu benar memintaku bangkit?
Aku tak mengerti, tidak ada yang mengerti.
Satu hal yang ku pahami, ini masih belum selesai. Kisah Bahagiaku, belum dimulai. Dan Kisah Dustaku, masih akan terus berlanjut.

3 komentar:

  1. Jujur itu emang berat bagaikan menelan obat yang pahit

    BalasHapus
  2. kalo di pepatah jawa kasar: "jujur marai ajur". artinya, terkadang jujur bisa bikin lo ancuur. ada juga kan yee dusta yang dihalalkan? hehe

    BalasHapus

Mampir dan baca lagi ya.. anyway jangan di copy - melanggar hak cipta.
THANK YOU